The Disadvantages of Any Embodied of Caring

Judulnya aneh memang, kerugian segala bentuk dari kepedulian. Keanehannya bisa jadi karena bahasa inggris saya jelek atau karena menyebut bahwa kepedulian, apapun bentuknya adalah suatu kerugian.

Jadi begini,

Saya menemukan pola dari beberapa tokoh genius dalam film atau serial televisi yang menyebut bahwa segala bentuk perhatian, terutama cinta adalah salah satu kegagalan evolusi mental manusia (ya, evolusi, bukan revolusi.

Revolusi mental itu slogan kampanye. Evolusi ini lebih keproses yang dijelaskan Om Darwin).

Contohnya quote dari dua tokoh genius fiktif serial televisi LUAR NEGERI favorit saya, Dr. Gregory House dokter genius yang antisosial, dan detektif terkenal sepanjang sejarah Sherlock Holmes

Dr. Gregory House: Exactly. Why?… Because love and happiness are nothing but distractions.

Kalimat tersebut diucapkan dokter fiktif eksentrik yang diperankan oleh Hugh Laurie tersebut sadar, bahwa hubungan asmara yang ia jalani dengan tokoh lain, Dr. Lisa Cuddy, adalah alasan mengapa akhir-akhir ini (dalam season 7) House sering telat menemukan penyebab penyakit dari pasien yang ia tangani.

Lain lagi dengan Sherlock Holmes,

Kali ini saya mengutip salah satu quote dari detektif fenomenal (fiktif, too bad) ini. Dari salah satu serial adaptasi yang terbaik dari sisi drama, tapi kurang sip dari sisi teka-teki dan kasus.

Sherlock Holmes: …. I imagine John Watson thinks love’s a mystery to me, but the chemistry is incredibly simple and very destructive…… I’ve always assumed that love is a dangerous disadvantage. Thank you for the final proof.

Inti dari kalimat diatas ada dua.

  • Pertama, cinta itu bukan misteri, cuma serangkaian reaksi kimia, lebih spesifiknya sih transduksi sinyal dengan perantara hormon.
  • Kedua, cinta adalah kelemahan manusia yang sangat berbahaya.

Sherlock tidak membual, setidaknya dalam mini series tersebut, karena dengan mengeksploitasi perasaan Irene Adler, sang detektif akhirnya bisa memecahkan Password camera phone The Women,

Anda bisa menyaksikan scene ini pada episode kedua mini seri Sherlock’s BBC, A Scandal in Belgravia

Jadi apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini?

Begini,

Sebenarnya Saya bingung, 

Saat saya menyaksikan film dokumenter tentang Turcana Boy, Saya menemukan satu statement bahwa pada saat itu, Turcana Boy, (seekor apa seorang ya?) yang disebut sebagai salah satu nenek moyang Homo sapiens memiliki peluang hidup yang lebih besar dibanding makhluk lain karena mereka telah mengembangkan hubungan psikologis antar anggota kawanan.

Dengan kata lain, rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama, telah membantu manusia purba berevolusi menjadi manusia tembok seperti yang Anda saksikan sekarang.

Selain itu, saya cuma ga tau manu nulis apa lagi di-blog ini. Eman, DA-nya sudah 21. Kalau nganggur saya yang rugi. hahahaha

Bogor, 23/01/2016

Perpustakaan IPB

1 comment / Add your comment below

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.