Buang Sampah,  Filsafat,  Psikologi

Tentang Kesepian, Terasing dan Kesendirian

Advertisements

Pagi ini saya tersesat disebuah artikel di tirto.id. Artikel tersebut berjudul Menteri Kesepian Inggris Bongkar Keterasingan Kronis Manusia Modern.

Interesting article. Topik ini sudah saya bahas pada beberapa postingan saya sebelumnya. Tentang sepi, sunyi, dan kesendirian. dengan serampangan tentunya. Inti artikel-artikel saya dan artikel tirto itu sama saja.

Tapi kali ini saya akan mencoba memberikan sedikit penjelasan, kenapa rasa terasing itu ada dan bagaimana cara membuat sepi jadi teman.

cliché ain’t it?

Bagaimana Kualitas Sebuah Komunikasi Jadi Pembeda?

 

Alone vs Lonely : Bagaimana Kualitas Sebuah Komunikasi Jadi Pembeda?

Kesendirian itu bukan karena ga ada teman. Tapi karena komunikasi yang tidak berkualitas. Bahasa simpelnya, ga nyambung ngobrol.

Ya, pasti kita semua pernah terjebak dalam suatu situasi kaku, dimana kita terasing dalam sebuah kerumunan. Merasa sendiri dalam percakapan yang ramai.

It’s suck, isn’t it?

Jadi apa yang salah?

Ada artikel menarik lain dari situs psychologicalscience.org, judulnya Isolating the Costs of Loneliness. Ada kalimat seperti ini :

This is strange, because simply being with someone often does nothing to dampen loneliness — on the contrary, he thinks, “that is the way that you can be most lonely.” (A Farewell to Arms ).

Iya,berjalan bersama teman tidak menjamin kamu bebas dari rasa sepi. Justru rasa terasing itu berasal dari ketidakmampuan temanmu menjalin komunikasi yang berkualitas.

Komunikasi yang berkualitas itu seperti ini.

Pertama, kamu bebas mengutarakan pemikiranmu dan lawan bicaramu bisa mengikuti alur pikiranmu.Kamu juga bisa menerima dengan santai masukan atau kritik dari lawan kamu berbicara.

Kedua, kamu bisa mengerti apa mau teman disampingmu. Bisa saja dia ingin diam, atau sedang butuh perhatian. Iya, komunikasi bukan hanya percakapan saja. Pengertian juga termasuk bentuk komunikasi.

Penyebab Buruknya Komunikasi

Masalahnya, tidak semua orang diberkahi kemampuan komunikasi yang baik. Entah karena dia songong dan lebih memilih hidup dalam dunianya sendiri, atau karena social skill-nya memang cetek. Kedua tipe manusia tersebut adalah tipe yang susah membangun komunikasi yang berkualitas.

Songong~ (harvard.edu)

yha, tipe pertama dijauhi karena (dianggap) kurang bisa menghargai lawan bicaranya. Cap songong akan menyulitkan mereka sendiri saat sebuah komunikasi dibangun.

Seperti inhibitor enzim gitulah, sekeras si songong berusaha, komunikasi yang berkualitas dan dalam tidak akan pernah terbangun.

Tipe kedua susah mendapatkan teman karena mereka tidak bisa memulai. Mereka tidak bisa memulai karena malu atau takut. Akibat dari kekurangan manusia tipe ini kurang lebih sama dengan tipe songong.

Bedanya, tipe kedua lebih seperti enzim yang Km-nya tinggi. Butuh effort yang besar dan dukungan yang kuat untuk membangun komunikasi yang baik.

Hmmm iya, penjelasannya terasa memposisikan mereka jadi korban.

Versi jahatnya begini:

Orang songong cenderung berkomunikasi satu arah. Mereka tidak memerlukan pendapat orang lain. Fatalnya mereka menunjukkan dengan jelas keengganan mereka mendengarkan. Yha, semacam kacang lupa kulitnya gitu. Nah, sikap yang demikian melanggar fondasi utama komunikasi : perbincangan dinamis diantara dua kepala.

Sedang mereka yang social skillnya rendah, lebih sering menyusahkan pihak kedua untuk membangun komunikasi. Kenapa? Karena orang-orang akan menganggap mereka tidak ada. Bisa juga menganggap tipe kedua ini saya. Maksudnya, songong. Kemudian, lingkaran setan social isolation dimulai~

Social Isolation Hmmmmm~

Iya.

Kesendirian juga bisa diakibatkan oleh isolasi sosial, pengucilan diri dan dikucilkan. Saat seseorang dikucilkan atau mengucilkan diri, komunikasi jadi tidak berkualitas. Bahkan tidak ada sama sekali.

Isolasi sosial bisa terjadi karena kamu memang teman yang buruk. Kamu tidak mau dan tidak bisa menghargai orang-orang disekitarmu. Lalu barisan sakit hati akan mulai menggerombol, rasa benci itu akan menjadi dinding pemisah antara kamu dan mereka.

Skenario kedua murni terjadi karena perubahan negatif psikologis dari seseorang, depresi misalnya. Depresi bisa saja terjadi karena penurunan kepercayaan diri dan rasa tidak percaya pada lingkungan sekitarnya. Padahal keduanya adalah faktor krusial dalam sebuah komunikasi.

Alone vs Lonely

Alone adalah sendiri secara fisik. Lonely adalah, kesepian.

Simple? Iya, sesimple itu. Hahahah, tentu saja tidak.

Being alone, mari kita sepakati dia sebagai solitude. Solitude sendiri yha berarti sendiri, menyendiri. Kata ini adalah warga negara Latin (emang ada negara Latin?), solus, artinya cendili. Tapi simbah Google menambahkan privacy dan peace di-list synonim solitude.

Kenapa?

Simpel saja, seperti yang saya tulis di The Untitled, kesendirian memberimu kesempatan untuk mengerti dan menjadi dirimu sendiri.

Beda dengan Lonely, kesepian. Meski sama-sama berakar dari kesendirian, kesepian membawa dampak negatif karena ia membuatmu (merasa) terasing. Keterasingan sendiri diartikan oleh otak sebagai hukuman. Bahkan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kesepian dapat membunuhmu perlahan, literally.

Memahami Kesunyian adalah Memahami Dirimu Sendiri

Jadi, kira-kira bagaimana cara mengubah rasa terasing itu jadi teman?

Sayang sekali, saya juga belum bisa, buktinya, saya sering galaw dan buang sampah, ngacapruk ga karuan. Tapi jangan khawatir. Doppelganger saya sudah menjelaskan bagaimana cara mengatasi kesepian jadi solitude.

Begini katanya,

Hah~ Jadi kamu itu berlagak sukasepi. Tapi belum bisa menaklukkan bagian purba dari dirimu sendiri. Apa yang kau rasa saat ini hanya permainan kimiawi otak belaka. Berikan waktu pada otakmu untuk mengenali sepi sebagai teman baru.

Iya.

Berikan sedikit waktu, agar otakmu terbiasa dengan rasa terasing itu. Dari pada memikirkan lukanya, habiskan waktumu dengan mempelajari sisi baik dari dirimu. Mengevaluasi kekuranganmu. Memberi kamu waktu untuk mengingat lagi keinginan yang belum sempat terwujud. Jadikan keterasingan ini jadi cara untuk berbincang lebih

Pemikiran orang lain kadang bias, kadang tidak sesuai dengan apa yang kamu butuhkan. Maka jadikan kesendirian sebagai kesempatan untuk mengenal dirimu sendiri.

Tapi ingat kata Doppelganger saya…….

…… menjadikan sepi sebagai teman membutuhkan waktu, dalam prosesnya, terluka adalah efek samping yang harus kamu hadapi.

Jadi bersabarlah~

Wait a Sec, Bagaimana dengan Eksistensial?

Iya iya,

harusnya tulisan ini berakhir, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu itu adalah eksistenSIAL.

Jika diperhatikan lebih dalam, penyebab dari rasa sakit saat terasing adalah efek keberadaan kita tidak dihargai atau tidak dianggap ada. Istilah ke-mringgis-nya, existential crisis.

Kebetulan, Wikipedia mencatat bahwa kesepian dan existential crisis bisa ketukar atau selalu berdua kemana-mana. Saling disambung-sambungkan, saling dihubung-hubungkan. Kembar dempet~

Jadi, bagaimana cara mengatasi krisis eksistensial?

Adalah Kimberly Russell M.A., M.S.Ed, kontributor Psychology Today yang menyatakan kalimat aneh ini :

Have you ever had an existential crisis? They’re not fun. But man, they’re important.

I had a miniature version of one a few weeks ago. It had been building up for a while, finally erupting when I spoke of it out loud during a brief, scattered bedtime conversation with my half asleep husband.

FYI…yes, you can totally work through an existential crisis by talking it out with someone who is barely listening. Sometimes you don’t really need advice, you just need a to hear your own voice. We always seek for answers outside of ourselves, but that’s not where answers live. (How to Work Through an Existential Crisis).

Iya. Kunci dari mengatasi krisis eksistensi akibat kesepian dan (merasa) diasingkan adalah solitud, menghabiskan waktu untuk mengenali dirimu sendiri. Memanusiakan dirimu sendiri tanpa bias pikiran orang lain.

Iya, tesis belum ‘kuselesaikan, jangan banyak tanya kapan. Doakan saja.

Fin~

Bogor, 29 Oktober 2018

 

 

Master of Science, Blogger, SEO and Internet Marketing enthusiast.

2 Comments

  • Dyah

    Hmm… jadi kalau kita merasa kesepian, kita perlu membuat kesepian itu menjadi teman? Wah, mungkin saya punya pendapat yang agak berbeda ya. Kalau kita merasa kesepian, berarti kita mendapatkan kesempatan untuk mempelajari diri dan orang lain di sekitar kita. Justru rasa kesepian itu menjadi pendorong untuk lebih aktif berpetualang dengan tipe-tipe orang yang berbeda-beda. Saya malah jadinya mencoba ikut macam-macam kegiatan untuk tahu bagaimana orang lain-lain berinteraksi dengan kita. Petualang sosial, lah.

  • Lai Karomah

    Tidak juga..

    Tiap orang punya cara berbeda buat menikmati sepinya. Kadang lebih nikmat sendiri, lalu yang lain lebih suka bertemu dan berbagi cerita dgn orang lain. Nah, kebetulan saya lebih suka menyendiri, setidaknya bersama teman yg juga sama suka sepi 😀

Silahkan diskusikan topik diatas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: