Resensi Buku Tentang Menulis: Apa yang Dibutuhkan untuk Jadi Penulis Profesional?

Jika kenyang adalah sebuah gagasan, maka mengunyah nasi goreng 
setelah menyendok dan mencampurnya dengan acar dan telur ceplok 
adalah proses menyampaikan cerita.

Bernard Batubara
buku tentang menulis bernard batubara

Kira-kira begitu kalimat dari buku Tentang Menulis karya Bernard Batubara yang menempel di kepala saya.  Buku ini saya beli dengan ekspektasi yang cukup tinggi.

Mengapa?

Advertisements

Well, saya suka gaya penulisan Bernard. Cara penulis yang baru saja menikah ini menyampaikan sebuah cerita tidak bertele-tele. Ia bisa memilah inti cerita dan sampingannya. Misalnya, pada novel Espresso, proses perjalanan Lulu dari seorang yang tidak mengenal kopi hingga menjadi barista andal adalah inti cerita, sedangkan konflik pribadi tokoh-tokohnya adalah pemanis saja.

Mas-mas ini tidak takut dianggap kurang bisa mengembangkan konflik asmara dkk yang lebih menjanjikan engagement pembaca, demi fokus dalam menyampaikan gagasan utama mengapa novel ini dibuat.

Bagi saya yang sering bingung mengembangkan proses menyampaikan gagasan, tentu saja, buku dengan dimensi 12 × 18 cm ini saya harap bisa menjadi solusi. Namun, alih-alih mendapatkan pencerahan secara teknis, buku ini malah memberikan iluminasi dari sisi psikis saya.

Advertisements

Jadi begini.

Buku ini tidak serinci “Tirai Aroma Karsa” karya mbak Dee Lestari dalam mengulas proses kreatif sang penulis. Buku ini lebih melatih mindset kita agar benar-benar mendedikasikan waktu dan pikiran saat menulis. Misalnya, pada bab awal, Bernard menceritakan kronologi dan definisi seorang penulis dalam versinya sendiri.

Penulis kelahiran 9 Juli, 31 tahun lalu ini menegaskan bahwa siapapun yang sudah menulis gagasannya menjadi sebuah cerita atau jenis karya tulis lain adalah penulis. Tapi, untuk menjadi seorang penulis profesional yang dibayar atau diterbitkan karyanya, Anda harus bertanggung jawab dan fokus pada pekerjaan tersebut.

Demi fokus dalam perjalanannya menjadi penulis, Bernard rela melepas pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbitan. Alasannya, ia ingin menjadikan passion-nya ini sebagai mata pencaharian.

Tapi keputusannya bukan tanpa pertimbangan dan persiapan. Ia mengundurkan diri setelah tabungan di rekeningnya cukup untuk menopang hidup. Bukankah salah satu pengganggu kita adalah rekening yang kosong?

Advertisements

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.