Post Traumatic : Review Album Solo Mike Shinoda

Advertisements

21 Juli 2017. Pada hari itu, saya ingat, bagaimana saya tercengang ketika menyaksikan berita kematian Chester Bennington, vokalis utama Linkin Park. Sekitar seminggu setelahnya, saya merasa agak aneh dan linglung.

Lebay memang. Tapi, Untuk seorang yang suaranya mewakili teriakan dalam tempurung kepala saya, kematian ChazzyChaz cukup meninggalkan lubang.

Itu saya. Cuma fans biasa. Lalu bagaimana dengan Mike Shinoda?

Mike Shinoda adalah frontman dan the glue yang jadi fondasi musik Linkin Park. Pria keturunan Jepang ini juga vokalis dan rapper linkin park. Tandem tempur Chester. Kedua Pria ini sudah seperti roti tawar dan selai cokelat. Saling melengkapi di atas panggung, saling usil, saling ejek.

linkin park
Mike Shinoda dan Chester Be

Bromance banget.

Saat kematian Chester, Mike (setidaknya yang saya lihat) yang paling berduka diantara punggawa Linkin Park lain. Beberapa postingan instagram Mike tampak begitu kelam. Belum lagi saat konser Tribute untuk Chester, Mike tampak kesusahan menahan emosi.

Trauma akibat kehilangan orang terdekat, apalagi dengan cara yang tragis pasti tidak mudah. Kematian dan keputusan Chester sendiri juga nampaknya dipicu oleh kematian bintang rock lain, Chris Cornell yang meninggal beberapa bulan sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan Mike Shinoda sendiri?

Mike adalah pria kreatif. Ia keluar dari rongrongan post traumatic dengan menyalurkan emosinya melalui musik dan karya seni. Setelah sekitar enam bulan sejak kematian Chester, Mike merilis tiga buah lagu sebagai teaser album solonya, Post Traumatic.

post traumatic mike shinoda
Mike Shinoda

Ketiga lagu tersebut berjudul A Place to Start, Over Again, dan Watching As I Fall.

Tentang Album ini, Mike menjelaskan pada salah satu postingan Instagramnya pda bulan Desember lalu :

The past six months have been a rollercoaster. Amidst the chaos, I’ve started to feel an intense gratitude – for your tributes and messages of support, for the career you have allowed me to have, and for the simple opportunity to create. Today, I’m sharing three songs I wrote and produced, with visuals that I filmed, painted, and edited myself. At its core, grief is a personal, intimate experience. As such, this is not Linkin Park, nor is it Fort Minor – it’s just me. Art has always been the place I go when I need to sort through the complexity and confusion of the road ahead. I don’t know where this path goes, but I’m grateful I get to share it with you.

Mike Shinoda on Instagram

Jadi, intinya adalah, album ini adalah perwujudan dari rasa berduka dan frustasi sang Frontman akan kematian temannya. Album ini tidak mewakili Linkin Park dan Fort Minor (side project dari Mike). Album ini murni diproduseri, diedit, dan diberi sentuhan artistik sendiri oleh dan untuk Mike.

Nah, berikut reviewnya.

Review Post Traumatic

Streaming Post Traumatic via Spotify.

A Place To Start

Lagu pertama diawali dengan alunan nada yang kalem nan kelam. Kemudian Mike merapal lirik demi lirik dilanjutkan dengan rapping yang cepat. Gaya rap yang digunakan mirip dengan gaya rap Mike di Papercut. Cepat dan penuh emosi. Lalu diakhiri dengan lirik dan nada yang lebih kalem dan tentu saja, depressing.

Lagu ini menceritakan bagaimana rasa frustasi Mike saat Chester meninggal. Dunianya yang bisa dibilang sempurna, dengan kesuksesan album One More Light, tiba-tiba runtuh. Seseorang dengan trauma psikis cenderung merasa sulit untuk mengambil keputusan dan titik terang dari kehidupan. Harapan dari pemusik yang juga graphic designer ini simpel saja. Ia berharap dapat menemukan kembali titik balik dalam kehidupannya pasca kematian Chester.

Over Again

Jika lagu sebelumnya lebih kelam nan kalem. Over again menggambarkan frustasi dan amarah dari Mike. Bisa didengar dari intro lagu yang bukan alunan musik. Tapi suasana macet, klakson berdesis dan teriakan kesal Mike.

Lirik lagunya bercerita tentang bulan-bulan awal pasca kematian Chester. Bagaimana para punggawa Linkin Park kehilangan arah, linglung. Akhirnya, mereka memutuskan menyelenggarakan konser tribute to Chester.

Lagu ini menceritakan bagaimana perasaan Mike yang berantakan saat latihan. Bagaimana perasaannya saat menyanyikan lagu hits Linkin Park tanpa Chester malah membuatnya mual.

Bukan hanya rasa kehilangan, banyaknya simpati dan orang-orang yang bertanya keadaan Mike juga membuat pria ini jengah. Hal ini bisa dilihat dari verse kedua lirik Over again berikut:

What (are) they saying, I’m not raw?
What the fuck you take me for?
All the sudden you hear what I’ve said a hundred ways before?
I been pushed, I been trapped
Drug myself through hell and back and
Fallen flat and had the balls to start it all again from scratch
How do you feel, how you doing, how’d the show go?
Am I insane to say the truth is that I don’t know
My body aches head’s spinning this is all wrong
I almost lost it in middle of a couple songs
And everybody that I talk to is like, “wow
Must be really hard to figure what to do now”
Well thank you genius, you think it’ll be a challenge
Only my life’s work hanging in the fucking balance
And all I wanted was to get a little bit of closure
And every step I took I looked and wasn’t any closer
‘Cause sometimes when you say goodbye, yeah you say it
Over and over and over and over

Over Again via Genius

Sebagai lagu yang mewakili perasaan hati, over again sangat sempurna jika dijadikan contoh dari Kübler-Ross States of grief. Mike, dalam lagu ini ada pada fase Anger dimana rasa sedih dan bersalah diekspresikan dalam emosi yang eratis dan amarah.

Rating Album Post Traumatic Mike Shinoda
  • Musik
  • Lirik
  • Arasemen
4.5

Review Kami

Album ini adalah perwujudan dari rasa berduka dan frustasi sang Frontman akan kematian temannya. Album ini tidak mewakili Linkin Park dan Fort Minor (side project dari Mike).

Sending
User Review
4.5 (4 votes)
Close
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: