Minutes to Midnight

Advertisements

Kembali pada kata atau rasa yang sulit dicerna…
Lagu asing ini mulai terasa dari dulu
Dan, perihnya masih mengalun.
Merahnya masih busuk dalam tawa…
Haha…
Tahun demi tahun waktu makin mantap berlari
Berlari…

Tapi lagu aneh ini belum bisa aku katakan.
Tetap menggetas, tetap beku meski lama-lama ia makin membusuk, makin kental dengan ceracau.
Lagu aneh itu adalah kesepian.
Kesepian bukan suasana eksternal
Rasa ini murni dari dalam aku. Bukan karena malam ini, hanya detak jantungku yang ‘ku dengar.
Atau kipas laptop yang menderu, adalah satu-satunya suara yang temani ‘ku…
Aku memang selalu begitu, merasa kesepian. Kata inipun, aku pilih karena ia yang paling mendekati semua yang selama ini menyumbat dalam di tenggorokanku.
Aku selalu serakah, bila nada itu mulai meraja.
Kata-perkata aku susun, aku menge-press sesak ini menjadi satu kalimat sebait kata-kata
Atau puisi, begitu kau dan mereka menyebutnya.

“dan, nafas bukan untuk ini
Sepi
Yang mencekam kulit
Senada lelah bukan derita lagi
Sungguh…
Ini sepi…
Begitu dalam menggali langit..”

Kata diatas sudah punya banyak versi, tak terhitung. Dengan topologi dan diksi berbeda. Karena, meski kesepianku sama lagunya, tapi kadang kata yang aku rangkai sebelumnya, tak bisa mengemas rapat rasa ini.
Haha…
karena aku yang bertanggung jawab atas hidupku, apapun itu…
Maka, rasa ini akan aku tanggung sendiri. Meski aku tak yakin. Aku bisa melalui tiap deti yang ramai berderap
Namun semakin sesak saja..,
Yah…
Rasa sepi ini
Nada lagu ini…
Adalah luka, yang takkan bisa menepi…

Jember, 17 April 2011

Close
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: