House and Philosophy : Belajar Filsafat dari Serial Televisi

Advertisements

House and Philosophy : Belajar Filsafat dari Serial Televisi

Alan Turing (in Imitation game) once said.

If you remove pleasure from someone’s act, then the act will be hollow.

Yah. Hidup ini sebatas pada rasa puas dan kesenangan. Dangkal memang. Jadi apa arti kehidupan ini jika hanya berdasarkan pada nafsu belaka? Lalu apa benar manusia hanya hewan berbusana yang berjalan dengan dua kaki? Lalu apa karena hidup hanya sebatas kesenangan maka it’s not worth living? Dan, apa sebenarnya life that worth living dan meaningful life itu?

Kedua pertanyaan diatas dapat dijawab dengan filsafat. Filsafat sendiri adalah ilmu dasar yang mempelajari eksistensi, etika, asal mula dan makna dari segala aspek kehidupan, pencarian kebenaran dan sebagainya (Sumber : What is Philosophy).

Sounds complicated?

Ya, filsafat memang susah dipelajari. Bahkan konon dapat mengakibatkan seseorang stress. Tapi filsafat tidak seangker itu. Banyak hasil budaya pop seperti serial televisi yang memasukkan materi filsafat dalam scene-scene acara yang mereka produksi.

Adalah House MD, salah satu serial televisi asal Amerika serikat yang kaya akan muatan filsafat pada tiap episodenya.

HOUSE MD : Serial TV Medis yang Tidak Melulu Medical

House MD adalah serial televisi yang menceritakan tentang dokter jenius. Meski sering menyelamatkan banyak pasien dengan kecerdasannya, dokter ini adalah lelaki brengsek dan cenderung anti-sosial. Jika Anda susah membayangkan seperti apa sosok sang dokter, Gregory House, bayangkan saja Sherlock Holmes.

House sendiri adalah karakter Holmesian, sosok fiktif yang dikembangkan dari Sherlock Holmes : jenius, sosiopat, menyebalkan dan suka memecahkan kasus sulit.

Yang saya suka dari House MD adalah inti cerita yang diangkat. Meski bertema medis, House MD sarat atas topik psikologi dan filosofi. Kedua topik ‘berat’ tersebut dikemas dengan humor yang lucu, kasus medis yang unik dan menarik serta alur cerita yang tidak membosankan.

Popularitas dari serial televisi yang diproduksi oleh Universal dan Bad Hat Harry ini bukan hanya mendatangkan banyak penghargaan. Jalan ceritanya yang kaya akan masalah kehidupan sehari-hari menarik penulis-penulis filsafat populer.

Adalah Henry jacoby, seorang penulis filsafat populer yang menjadi editor bagi tim penulis Philosophy and Popular Culture series lain. Tim Jacoby akhirnya melahirkan sebuah buku yang berjudul ‘ House and Philosophy : Everybody Lies’.

House and Philosophy : Everybody Lies

Penerbit Wiley sendiri adalah penerbitan ilmiah. Tidak mengagetkan jika bab perbab dari buku ini mirip dengan terbitan jurnal ilmiah : Masing-masing pokok bahasan ditulis oleh penulis berbeda. Tentunya penulis tersebut memiliki background yang mumpuni dibidang filsafat.

house and philosophy ebook
Cover buku House and Philosophy (Blackwell Philosophy and Pop Culture)

Terdapat empat bagian pembahasan dalam buku ini. Bagian pertama membahas aspek makna kehidupan. Bagian kedua membahas aspek metodologis dalam pencarian kebenaran. Bagian ketiga membahas tentang etika, sedangkan bagian keempat lebih membahas secara dalam aspek karakter dalam serial televisi produksi David Shore ini.

Humanity is Overrated

Makna Kehidupan

Kembali pada pertanyaan di awal postingan ini.

Apa arti kehidupan ini jika hanya berdasarkan pada nafsu belaka?

Apa benar manusia hanya hewan berbusana yang berjalan dengan dua kaki?

Lalu apa karena hidup hanya sebatas kesenangan maka it’s not worth living?

Dan, apa sebenarnya life that worth living dan meaningful life itu?

Jadi apa jawaban atau pandangan House atas pertanyaan-pertanyaan tersebut? Singkat saja. Coba pahami dialog berikut:

We are selfish, base animals crawling across
the Earth. Because we got brains, we try real hard,
and we occasionally aspire to something that is less
than pure evil.
House MD Episode 12, Season 3 “ One Day, One Room

Ya,

bagi tokoh yang diperankan dengan apik oleh Hugh Laurie ini, manusia adalah hewan yang berakal. Istilah arabnya, الانسان حيوان ناطق . Manusia adalah hewan yang berakal. Kehidupan hanya sebuah skenario obsesif nan egois.

Lalu apakah serial televisi ini berusaha menanamkan doktrin nihils bahwa hidup sama sekali tidak bermakna? Tidak juga. House MD berusaha memberi contoh nyata tentang apa yang disebut the examined life oleh Sokrates dan a life of reason Aristoteles.

Aristoteles dan Socrates
Aristoteles dan Socrates (amazon.com)

Singkatnya, serial televisi ini ingin menunjukkan bahwa makna kehidupan itu untuk dicari. Meski sang tokoh memaknai hidup itu tidak berarti apapun, justru dalam prosesnya, ia malah menunjukkan bahwa life do have a meaning. 

Dalam seluruh episode dari House diakhiri dengan sembuhnya pasien sang dokter. Tentunya setelah berbagai diagnosa dan pengobatan yang rumit. Dari sini kita akan belajar, bagaimana sang dokter yang biasanya hanya bermalas-malasan memiliki hidup yang bermakna. Makna dari hidupnya adalah memecahkan kasus medis yang sulit dan menyelamatkan hidup orang lain.

Dalam kehidupan nyata contohnya seperti ini,

Saat sang Dokter berhasil memecahkan kasus medis yang rumit dan menyelamatkan hidup penderitanya, ia akan merasa senang. Sama saat kita melakukan sesuatu, misalnya menyedekahkan sedikit harta kita. Kita akan merasa senang.

Saat itulah hidup kita menjadi berarti. Saat kita merasa dan memilih untuk memberi kesan, bahwa keputusan kita baik bagi diri sendiri dan orang lain. Saat kita merasa bahagia dengan langkah yang kita ambil.

Lebih jauhnya, hidup yang bermakna adalah saat kita berhasil menjalankan fungsi kita sebagai manusia. House memang tidak peduli dengan makna hidup itu sendiri. Namun, ia telah menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan baik. Maka ia telah memenuhi kriteria a meaningful life yang dirumuskan Aristoteles : Kehidupan yang bermakna adalah saat kita berhasil menjalankan hidup berdasarkan fungsinya.

Kita sebagai makhluk sosial, akan merasa hidup kita lebih berarti saat bersedekah. Karena kita telah memenuhi hasrat kita untuk berbagi (baca : Embodied of Caring). Pahala atau balasan tuhan dikemudian hari bisa dibilang ‘hanyalah’ a dramatic flourish.  

The Hell is Other People

 

Jean Paul Sartre
Jean Paul Sartre dan quote terkenalnya : Hell is other people (etsystatic.com)

Kehidupan ini tidak memiliki makna, sampai kita berhasil memenuhi fungsi kita dengan baik dan berbahagia dengan apa yang kita punya.

Dan ya, nilai kemanusiaan itu berlebihan. Karena nilai kemanusiaan sendiri disusun berdasarkan standar yang baku. Padahal arti hidup seseorang tidaklah sama. Kadang kita dipaksa untuk hidup dalam standar orang lain.

Meski kadang dianggap ‘baik’ nilai-nilai kemanusiaan tersebut justru kadang menghambat gerak kita. Akhirnya fungsi kehidupan kita tidak tercapai dan kita akan didera kesedihan.

Oleh karena itu, Jean Paul Sartre, seorang eksistensialis Prancis dalam teaternya, no exit, berkata :

The Hell is Other People

J. P. Sartre

Sang eksistensialis berusaha menggambarkan bagaimana nilai yang dipaksakan akan menghalangi kita untuk menjadi manusia seutuhnya.

Hal ini bisa dilihat pada metode diagnosis House yang berbahaya. Seringkali Lisa Cuddy, boss sang dokter melarang House untuk menggunakan metode berbahaya tersebut. House tentu saja tetap nakal, and yet, he saved peoples lives!

Dari sini House mengajarkan kita untuk tidak hidup dalam standar orang lain. Humanity and ethics are overrated. Lakukan apapun yang dibutuhkan untuk memenuhi aspek kehidupan. Selama tidak merugikan, lakukan apapun yang Anda mau.

Overcoming Humanity : A Brief Introduction to Nietzsche’s Supermen

Nietzsche
Nietzsche dan Superman (highexistence.com)

Bukan, bukan Superman yang ‘itu’. Supermen yang berusaha dikenalkan oleh House adalah Supermennya Nietzche. Filsafat eksistensialis Jerman.

Menurut Nietzsche, manusia super adalah mereka yang melampaui nilai kemanusiaan. Mereka yang berani menentang kemapanan demi mencapai tujuannya.

Kedengarannya anarkis bukan?

David Shore dan penulis cerita House lain mencoba mengkomunikasikan Übermensch dengan lebih sederhana. Tentang bagaimana seharusnya manusia berkembang menjadi lebih baik, membiarkan faktor eksternal mengganggu tujuannya.

Dalam kasus ini, House selalu mengajarkan pada tim diagnostik yang ia pimpin untuk melanggar peraturan bila perlu. Yang penting sang pasien bisa diobati dengan baik. Meski kadang keputusannya melanggar kode etik dan peraturan kedokteran.

 

Rating Buku House and Philosophy

Rating Buku House and Philosophy
  • Muatan filsafat
  • Mudah dipahami?
  • Menyenangkan?
3.8

Rangkuman resensi

House and Philosophy membahas dengan dalam muatan filsafat di House MD. Serial televisi populer USA. Buku yang cocok dnikmati mereka yang ingin mempelajari filsafat dan tidak suka dengan kemapanan.

Sending
User Review
4 (4 votes)
Close
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: