Frontend vs Backend

Advertisements

Ada hal menarik yang terbesit saat saya mengedit tampilan blog ini. Hal menarik itu, tentu saja tentang apa yang tersirat dan tersurat dalam perilaku seseorang dan bagaimana cara kita menanggapinya.

Begini ceritanya.

Kemarin saya mencoba mengubah theme wordpress saya via Macbook si Panda. Tampilan theme tersebut sangat menarik, simple dan elegan. Saya yang cepat berpuas diri, menyudahi acara oprek blog.

Nah, pagi ini saya mencoba melihat tampilan blog saya via laptop saya sendiri, Acer, laptop low-end yang ga ada fitur retina seperti macbook si Panda. Jeng jeng~ Tampilannya jadi aneh dan tidak elegan lagi.

Pertama, font family (typeface) yang terinstall di Macbook (MacOs Sierra) tentu saja berbeda dengan font family pada Acer (Fedora 29). Wajarlah jika terlihat hancur.

Kedua, resolusi layar Macbook pro tersebut juga lebih besar dari pada Acer yang saya miliki. Jadi tampilan blog saya pada Macbook lebih lega dan tegas. Berbeda dengan laptop Acer saya yang hanya 11 inci, theme yang memiliki padding gede ini jadi terlihat dipaksa menyesaki kotak sempit.

Ketiga, saat saya meminta si Pena Merah untuk membuka blog saya pada laptopnya, tampilan blog saya ini juga hancur disana. Kali ini masalahnya hanya typeface saja. Blog saya terlihat lega dengan padding optimal. Meski beberapa font tidak sesuai dengan bawaan theme.

Jadi, apa hal menarik yang dapat saya ambil dari keisengan saya tersebut?

Iya, mustahil sekali jika kita ingin memahami manusia. Pikiran manusia itu rumit. Pantas saja jika ada pepatah yang berkata bahwa dalamnya lautan dapat diselami, sedang hati manusia tidak. Hati dan perilaku manusia itu rumit. Apa yang Anda lihat dari seseorang hanya bagian frontend-nya saja.

Banyak yang melatarbelakangi sikap seseorang pada Anda dan mereka. Kata si Kertas Putih sih, begini :

Kamu dihasilkan dari sekian lama proses yang telah dilewati.

Hasil dari kamu yang dipuji dan dibanggakan.

Hasil saat kamu ditolak dan dicampakkan.

Akumulasi dari kamu yang ada tapi tidak dipedulikan.

Banyak yang melatari apa yang ditampilkan seseorang pada Anda. Jika seseorang tampil dengan wajah adem (bukan dingin) nan ramah. Ada pula seseorang yang baik atau buruk suasana hatinya tetap memasang wajah dingin, enggan menyapa.

Anda pasti membandingkan manusia es kopi ini dengan tipe pertama, bukan? Jika tipe pertama mampu tetap ceria saat muram, kenapa tipe kedua ini malah muram saat ceria? Aneh?

Tidak juga, jadi begini.

Kembali pada poin yang saya ambil saat oprek theme blog ini. Tiap theme didesain sesempurna mungkin oleh designernya. Defect yang terlihat dilayar bukan karena masalah selera saja. Tapi lebih karena komputer tidak memiliki resources yang pas untuk menampilkan desain tersebut secara optimal.

Bisa jadi karena manusia tipe pertama memiliki beragam pengalaman pahit dan rasa sakit yang membuatnya sadar, bahwa bersikap menyenangkan itu membuat orang lain dan dirinya sendiri damai.

Ga peduli seberapa berat masalah yang sedang ia hadapi, berpura-pura baik-baik saja akan membantunya benar-benar baik-baik saja. Kasarnya, topeng yang ia miliki banyak~ (iya, ini ga nyambung).

sumber: theatlantic.com

Tipe kedua adalah mereka yang susah mengekspresikan dirinya. Ia merasa tidak nyaman berbagi rasa, bisa jadi karena ia tidak mempercayai Anda atau karena ia tidak mau saja.

Bingung? Wajar saja sih. Tipe kedua adalah tipe unik. Anda tidak dapat menerka arti dibalik muka diamnya. Karena Anda tidak memiliki resources yang cukup untuk memahami manusia tipe ini.

Memahami manusia itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Tapi tidak apa-apa, tiap orang menampilkan dirinya sebaik mungkin dipermukaan. Tidak tahu juga apa yang ada dalam batok kepala mereka.

Jika ada sikap yang tidak Anda sukai, kadang bukan berarti ia berniat begitu. Bisa jadi karena Anda tidak memiliki pemikiran yang sama dengan ybs. Jadi Anda tidak bisa mengerti mengapa sikapnya begitu.

Jika Anda menghadapi manusia tipe pertama, Anda pasti hepi-hepi saja. Aura positifnya pasti lebih meneduhkan. Bagaimana dengan tipe kedua?

Sudah, jangan buang energi. Biarkan saja~

Kenapa nulis artikel mulu? Kapan tesis kelar?

Kapan, ya?

Master of Science, Blogger, SEO and Internet Marketing enthusiast.

2 thoughts on “Frontend vs Backend

  1. Kok tiba-tiba ada tipe pertama dan tipe kedua?
    Nggak sebaiknya dijelasin dulu beberapa tipe manusia sebelum masuk ke tiap2 tipe?

    Another thing, siapa sih idealnya pembaca postingan ini? Kenapa menggunakan Anda untuk merujuk ke pembaca? Padahal isinya nggak formal-formal banget, malah lebih banyak curhatnya.

    Mungkin ini masalah value pribadi aja ya, tapi apa nggak sebaiknya memikirkan pembaca juga dalam menulis? Apa sih value yang kamu tawarkan ke pembaca? Atau sekedar mengosongkan isi kepala saja?

  2. Wah.. Mas Prima sudah dua hari saya tunggu. Baru muncul 🙂 Terimakasih sudah berkenan mampir.

    Iya. Jadi ini hanya mengosongkan isi kepala saja. Tapi saya juga sedang belajar buat memberikan sesuatu pada pembaca. Sepertinya saya tidak terlalu berhasil karena terlalu terbawa emosi saat menulis.

    Value yang saya tawarkan sih, maunya begini.

    Saya ingin menjelaskan bahwa sebenarnya tiap orang memiliki cara sendiri untuk menampilkan dirinya pada semua orang. Tapi kadang kita gagal mengerti perilaku atau apapun yang orang tsb tampilkan. Dst..

    Saya tunggu komen selanjutnya. 🙂

Silahkan diskusikan topik diatas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE
%d bloggers like this: