Menceracau Tentang Makna Kehidupan

Tulisan ini berantakan, karena saya belum bisa menentukan arah bahasannya. Daripada hilang, saya tulis saja dulu.

Makna kehidupan sudah mengerak dipikiran. Ia bertumpuk begitu saja, tanpa sempat diubah jadi sesuatu yang memiliki makna.Pagi ini, tema abadi ini kembali membanjir. Gara-gara artikel yang ada di situs Sains Puisi. Pada font-nya yang kekecilan kutemukan kalimat: ‘Kita yang memberikan makna pada hidup.’

Betul sekali.

Karena hidup itu tidak memiliki apa-apa. Kita yang memiliki kuasa untuk memberikan nilai dan makna padanya.

Menemukan Makna Kehidupan Adalah Proses Panjang

Nilai kehidupan lahir dari berbagai proses. Tapi yang jelas, nilai yang dianggap baik, adalah nilai yang dulu menyokong keberhasilan nenek moyang kita untuk bertahan hidup.

Balas dendam misalnya. Ia bernilai negatif dan dianggap menghabiskan kesempatan seseorang memiliki hidup bermakna, karena ia identik dengan kekerasan, kejahatan, serta menjadi anti-tesis dari kebijakan.

Balas dendam lahir dari mekanisme pertahanan diri. Ia ada karena perasaan gagal melindungi kerabat dekat dari tindak kejahatan orang lain. Rasa frustasi yang timbul dari kegagalan tadi, dikeluarkan dalam bentuk agresi serupa: Kekerasan dan kejahatan.

Mekanisme tersebut akan memberikan tanda bahaya bagi orang lain yang ingin melakukan kejahatan serupa. Keidentikannya dengan kekerasanlah yang membuat balas dendam dinilai menjadi tindakan amoral dan irasional.

Lain lagi dengan sikap pengampunan. Ia dianggap lebih mulia dan mampu mendatangkan hidup yang damai. Karena melibatkan perilaku yang santun. Juga dianggap mencegah lingkaran setan balas dendam.

Kita bisa mengambil kesimpulan dari dua contoh diatas. Bahwa makna kehidupan lahir dari proses panjang. Proses yang melibatkan insting bertahan hidup dan kemampuan manusia menggunakan akal sehat.

Bagaimana Sebenarnya, Hidup Bermakna Itu?

Pencarian makna adalah kehidupan itu sendiri. Ia tidak akan pernah usai. Dia sendiri merupakan rentetan pembelajaran.

Ada yang bilang, bahwa kehidupan lebih bermakna jika berguna bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Banyak yang merelakan nyawa meregang, demi membantu sesama di pedalaman.

Membantu orang lain bukan hanya urusan memudahkan masalah mereka. Tapi mencegah mereka berbuat buruk pada kita, dan memperbesar kemungkinan uluran tangan mereka suatu saat nanti.

Berbuat baik dan beramah-tamah bukan hanya urusan menghormati sesama. Ia mencegah timbulnya sakit hati dan kemungkinan mereka berbuat serupa pada kita.

Makna populer yang sebenarnya menginfeksi masyarakat adalah apabila seseorang mencapai titik kemapanan ekonomi. Memiliki pasangan yang sempurna dan anak-anak rupawan yang cerdas.

Jika dipikirkan lebih sederhana, hidup bermakna adalah menjalani hidup, dimana tiap keputusan yang kita ambil, menjamin kelangsungan hidup itu sendiri. Kita mengambil keputusan baik: Keputusan yang menguntungkan diri kita, dan menghindari keputusan yang buruk: Keputusan yang membuat celaka.

Kemudian urusan baik dan buruk ini jadi bahan perdebatan kalangan cendekia. Begitu pula makna dalam hidup. Apa yang bagi kita bermakna, belum tentu bagi orang lain.

Hidup seseorang dianggap sia-sia jika tidak terlihat mentereng. Padahal, bisa saja, seseorang yang berpenampilan sederhana lebih bisa menghargai kehidupannya daripada mereka yang bergelimang harta. Para orang kaya seringkali sibuk dengan urusan menumpuk harta, hingga lupa menikmati kerja keras mereka.

Keduanya sama-sama akan mendapat cibiran. Seorang yang zuhud akan dianggap sok bijak tidak menikmati dunia. Sedangkan sang kaya pekerja keras akan dianggap serakah akan kehidupan dunia yang fana.

Tugas kita adalah bertahan pada nilai yang kita perjuangkan. Selama nilai tersebut tidak membahayakan kehidupan kita. Selama kita bisa memaknainya dan membawa kedamaian bagi jiwa kita.

Sumber Inspirasi

Spinoza: Filsafat Praktis

Lai Karomah
What am I really? Dunno~