Empat Bulan Menggelandang di Bogor

Advertisements
Ga terasa sudah empat bulan membusuk di Bogor. Meski ternyata Dramaga ga sedingin dan sehijau Ciawi, gak buruk-buruk amat buat menjadi (literally) gila disini.

Setidaknya ada empat hal yang ingin saya sampaikan pada artikel ini,

Pertama, bagaimana keadaan makanan yang saya beli selama ada di Bogor
Kedua, bagaimana keadaan transportasi selama saya ada di Bogor
Ketiga, pengalaman ngebioskop saya di BTM dan Botani Square Bogor
Keempat, bagaimana keadaan mental saya selama menjadi mahasiswi pascasarjana

Kuliner Bogor: Kurang Nendang Untuk Lidah Jawa Timuran Saya

selama 23 tahun saya tinggal di Jawa Timur, beretnis Madura (meski saya ga bisa bahasa daerah Ibu saya tersebut), yang terkenal akan masakannya yang cenderung kaya bumbu dan asin. Juga 4 tahun dari 23 tahun saya hidup, saya sempat tinggal di Jember. Masakan Khas Jawa yang juga berbumbu menendang dan cenderung manis sudah jadi sesuatu yang wajib lidah saya rasakan.
Dan, kepindahan saya ke Bogor ini sedikit membuat saya galau.
Bukan cuma harganya yang mahal ga masuk akal. Cita rasa masakan sunda yang terlalu lembut membelai dan menurut saya tidak seimbang membuat Saya malas makan di Luar.
Soto Ayam misalnya, dengan lidah yang biasa asin dan bumbu kental ini, masakan yang harusnya cukup menghibur lidah, terasa seperti… hmmmmm

Teh Ayam.
Karena begini, Bumbu soto ayam dan makanan berkuah lain di Bogor, cenderung berbumbu halus (kalimat sopan dari kata hambar) dan bercita rasa manis. Bahasa Jawanya,

Anyep
Oh iya, Saya juga belum pernah merasakan bakso seenak Bakso Solo disini. Alasannya sama, bumbu yang ditambahkan terlalu halus dan lembut. Kurang nendang untuk lidah Jawa Madura saya.

Transportasi di Bogor: Menghabiskan Hidup diatas Angkot

Saya tidak akan membicarakan trayek angkot kota Bogor disini. Saya cuma mau bercerita.
Suatu saat, ada bayi yang digendong orang tuanya, untuk bersama naik angkot. Setelah melawan Badai dan Teriknya mentari kesiangan dan sampai tujuan,
Bayi dalam gendongan tersebut sudah berjenggot.
Hah. Sudahlah, abaikan. Intinya kemacetan di Kota Bogor membuat Anda menghabiskan hidup diatas angkot.

Pengalaman Ngebioskop

Namanya kota besar. Harga tiket bioskop di Bogor setara dengan dua kali nonton di bioskop Jember. Apalagi di Botani Square. Fasilitasnya memang bagus. Kursi empuk, kursi lebih lebar dan studio yang lebar.
Jadi begini. Masalah utama ngebioskop di Bogor itu bukan masalah harga tiket. Tapi transportasi. Untuk mencapai BTM Anda harus melewati Stasiun Bogor, ruas jalan yang sering macet. Begitu pula jika Anda memilih menonton di Botani Square. Macet.
Belum lagi ongkos angkot pulang pergi yang jika dihitung cenderung lebih mahal dari pada harga tiket bioskop.

Keadaan Mental Selama Saya di Bogor.

Saya takut, tahun depan saya masuk rumah sakit jiwa. Karena tekanan yang luar biasa berkuliah disini. Tempat ini benar-benar seperti hutan rimba di galaksi lain. Benar-benar tidak cocok untuk manusia pemalas dan pecinta kasur seperti Saya

(Visited 1 times, 1 visits today)

Silahkan diskusikan topik diatas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.