eksistenSIAL

Ada yang bilang, urgensi manusia untuk dikenang karena mereka ingin abadi.

Bukan abadi sebagai wujud, lebih kepada seberapa baik mereka meninggalkan kesan pada orang-orang.

Advertisements

Jika tentang kenangan belaka, kenapa judulnya eksistenSIAL?

Lalu, kenapa ‘sial’ dari eksistensial di-uppercase?

Hahaha.

Advertisements

Pertama, eksistensial sendiri merujuk pada cabang filsafat, eksistensialisme.

Eksistensialisme mempelajari eksistensi manusia.

Posisi manusia diantara manusia lain, arti dan tujuan keberadaanmu di dunia ini.

definisi eksistensial
definisi eksistensial (tangkapan layar Google Search)

Lalu apa sebenarnya eksistensi?
Simpel, eksistensi itu keberadaan. Eksistensi itu cara hidup. Cara memposisikan diri.

Jika konteksnya digabung dengan kenangan. Maka eksistensi (dipaksa) jadi bagaimana caramu meninggalkan kesan dan kenangan orang-orang terdekatmu.

Simpel saja. Tidak usah repot-repot baca buku Nietzsche atau Sartre. Berat, biar Dilan saja.

Kamu cuma perlu selalu hadir saat orang terdekatmu butuh. Kadang hal-hal yang bodohpun jadi kenangan. Tidak perlu jadi Chairil Anwar, yang puisinya saja hidup seribu tahun.

Kamu cuma perlu tidak bertingkah menyebalkan. Menyebalkan yang lucu-lucu sih boleh. Tapi jangan sampai menyakiti. Jangan sampai anak orang nangis. Kecuali dia memang cengeng.

Jangan diam, nanti jadi batu.

Sumpah. Ini ngelantur.

hah!

Sengklek.

Oh iya, SIAL dari eksistenSIAL itu memang begitu.

Kenapa?

Tidak kenapa-napa. Aku cuma sedang mengenang sesegondrong.

~Fin~

Advertisements

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.