Buku Demotivasi – Menetralisir Toxic Positivism

Y: Ya, semoga saja aku bisa paham dan tulisannya kelar.
X: Kenapa, sih? Kamu selalu meremehkan diri kamu sendiri?
Y: Bukan meremehkan diri, realitanya memang begitu.
X: Iya. Nanti saja. Belum ada motivasi buat menyelesaikan tulisan ini.
Y: Hmmm. Jangan bergantung pada motivasi. Motivasi hanya 
akan membuatmu menunggu.

Percakapan di atas sering terjadi antara saya dan beberapa teman saya. Ucapan saya yang jujur sesuai perasaan saya tadi, dianggap sebagai pernyataan pesimistik oleh mereka.

Awalnya saya mengira saya ini aneh. Lalu perasaan ini berkembang menjadi persepsi yang membisikkan bahwa saya, memang pesimis.

Advertisements

Ternyata, saya tidak sendiri. Segala penolakan terhadap hal-hal yang berbau motivasi dan optimisme berlebihan, ternyata sudah lazim dari dahulu kala. Setidaknya hal ini yang saya pelajari dari buku Demotivasi karya Syarif Maulana ini.

buku demotivasi

Demotivasi Adalah Antitesis Motivasi dan Penawar Toxic Positivity

Sebelum saya mengulas buku ini, saya iseng mengetikkan kata kunci “Demotivasi” di Google. Tujuannya sih untuk mencari info seputar buku terbitan Buruan.co ini. Tapi, hasil pencarian yang saya dapat malah artikel-artikel yang berkaitan dengan penurunan gairah bekerja atau kuliah.

Seluruh artikel-artikel tadi menjelaskan hal yang sama: Penyebab utama turunnya gairah hidup adalah harapan yang tak sesuai dengan apa yang didapat oleh seorang pelaku kehidupan: Gaji tidak sesuai kerja keras, tidak mendapat bonus, tekanan dari atasan, dan teman kerja yang menyebalkan.

Advertisements

Iya.

Demotivasi memiliki ‘reputasi’ negatif. Ia digambarkan oleh beberapa media informasi sebagai kebalikan dari motivasi dan optimisme. Lalu, kenapa kalimat ini malah menjadi judul? Kenapa malah mengajak orang lain hidup biasa saja saat dunia sedang saling sikut untuk jadi luar biasa? Kenapa malah mengajak orang jadi pesimis saat banyak kasus PHK akibat COVID-19?

Dalam buku ini, dijelaskan bahwa mereka yang merasa kalah adalah mereka yang teracuni oleh optimismenya sendiri. Nah, fenomena ini, disinyalir oleh sang penulis sebagai efek samping dari pertumbuhan logaritmik motivator dan akun-akun kutipan di Instagram.

Motivasi dan optimisme berlebih memaksa kita untuk terus menerus memandang hidup dari satu sisi. Tanpa bisa menerima hidup kita apa adanya. Akibatnya, mereka yang terpapar konten motivasi akan teracuni oleh toxic positivism.Toxic positivism bisa menyebabkan seseorang makin terpuruk. Karena ia cenderung membuat seseorang tidak logis dan menggantungkan harapannya pada hidup yang tidak pasti.

Penulis menegaskan bahwa para motivator dan akun-akun quotes di Instagram tadi tidak ia anggap buruk. Hanya saja, trend ini cenderung membuat seseorang terbiasa memandang hidup dari satu sisi. Ia juga akan merasa bahwa masalah-masalah hidupnya hanya bisa diselesaikan dengan berpikir positif.

Kumpulan Kalimat Demotivasi dalam buku ini juga menjadi semacam jembatan stoisisme dan eksistensialisme. Dua topik yang buku-bukunya saya beli namun belum selesai saya baca itu. Stoisisme mengajarkan kita agar tetap mengedepankan akal pikiran dalam kondisi apapun. Eksistensialisme, dalam pemahaman saya sejauh ini, menyatakan bahwa manusia berhak menentukan dan memaknai sendiri jalan hidupnya.

Para motivator macam Mario Teguh cenderung memaksa audiensnya untuk menilai para pesimis yang menimbang-nimbang keadaan sebagai manusia yang buruk. Sedang mereka, pekerja keras yang optimis segala akan baik-baik saja, adalah manusia sublim. Menanggapi hal ini, sang Penggalau Sejati ini menuliskan bahwa pola pikir yang menempatkan harapan pada posisi tertinggi, rentan membuat banyak orang jatuh lebih dalam dan menyakitkan.

Iya, penelitian terkait kesehatan mental menunjukkan bahwa seorang yang optimis memiliki kinerja yang lebih baik. Kesehatan mental mereka juga lebih apik dibandingkan seseorang yang pesimis. Masalah akan muncul saat seseorang terfiksasi pada pemikiran tadi. Saat hidupnya tidak mengalami perkembangan sesuai harapannya, bisa saja ia malah terpuruk. Lalu terjebak jurang depresi.

Kita hidup di masyarakat yang mengagungkan pencapaian materialistik. Maka saat seseorang terpaksa memilih untuk menjalani hidup yang biasa-biasa saja, ia akan dianggap sampah. Hal ini, disebut penulis membuat filsuf eksistensialis macam Cioran, Sartre, Camus, dll muak akan hal tersebut. Lalu, mereka mulai menyebarkan pemikiran yang cenderung demotivatif.

Tujuannya bukan menegasi kemauan seseorang untuk sukses. Tapi lebih pada menyadarkan mereka yang mabuk motivasi agar lebih logis dalam memandang kehidupan.

Kesimpulan

Jika Anda bisa mengambil hikmahnya, paham demotivasi bukan kebalikan dari motivasi. Ia adalah antitesis dari motivasi. Sisi lain yang harus Anda pertimbangkan dalam menjalani hidup. Ia tidak seburuk artikel-artikel di Internet. Kalimat demotivasi bisa membuat Anda jadi sosok yang lebih baik, dengan menunjukkan pada Anda sisi gelap kehidupan. Bukan untuk takut pada sisi ini. Namun, agar Anda bisa menghadapi hidup dengan lebih baik.

Kalimat-kalimat dan pikiran demotivatif adalah sisi lain dari kehidupan yang harus kita ketahui. Ia sisi buruk kehidupan yang harus kita hadapi untuk menjalani hidup secara utuh.

Buku ini tidak disarankan untuk remaja dibawah 18 tahun. Jelas tertulis pada barcode buku ini. Penyebab pembatasan usia ini tak jauh dari kekhawatiran terjun bebasnya remaja yang masih menggebu. Masih mencari jati diri. Toh, nanti mereka juga akan belajar demotivasi seiring dengan perkembangan psikologi dan pengalaman mereka.

Buku Demotivasi - Menetralisir Toxic Positivism
4.3

Summary

 Kalimat demotivasi adalah antitesis dari motivasi. Namun, ia tidak seburuk artikel-artikel di Internet. Jika Anda bisa mengambil hikmahnya, kalimat demotivasi malah bisa membuat Anda jadi sosok yang lebih baik. Demotivasi akan membuat Anda selalu melihat sisi positif dari ruang gelap kehidupan.

Mengapa?

Karena kalimat-kalimat dan pikiran demotivasi adalah sisi lain dari kenyataan hidup yang harus kita ketahui. Ia sisi buruk kehidupan yang harus kita hadapi untuk menjalani hidup.

Sending
User Review
4.67 (3 votes)
Advertisements

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.