Buku Tulis

Advertisements

Dulu, zaman masih SMA, aku selalu membawa buku tulis. Bukan untuk mencatat pelajaran. Tapi mencatat ide-ide kusut yang seenaknya muncul.

Buku itu juga membantuku bercakap-cakap dengan teman-temanku. Mulai hanya meminta tolong ambilkan sajadah, hingga berbincang masalah hati paling aneh.

Kay, kebiasaan itu kini diganti dengan membawa handphone kemana-mana. Esensinta tetap sama, membantu bercakap dan menuliskan hal-hal yang mengganggu kepala. Tapi rasanya akhir-akhir ini, kecepatan tangan mengetik lebih lambat dibanding suara-suara berisik dalam kepala.

Banyak ide yang menguap, habis dilahap waktu yang terbuang, saat mencari huruf-huruf di keyboard. Lalu yang tersisa, hanya luapan emosi yang binal, karena tidak tersampaikan.

Yah, lihat saja nanti. Mungkin beberapa tulisan akan kuposting di markasbuku bersama tulisan si kertasputih danPena Merah

Silahkan diskusikan topik diatas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: