Buku yang Terbaca Bulan Juni

Artikel rekomendasi buku bacaan yang biasa saya tulis sebagai “Buku Bacaan Bulan …” saya ubah formatnya. Penyebabnya tentu saja karena saya tidak membaca buku pada daftar bacaan tersebut. Entah karena malas, atau karena saya memilih untuk membaca buku lain.

Nah, karena itu, saya ubah judul artikel dalam kategori rekomendasi bacaan ini sebagai “Buku yang Terbaca di Bulan…”. Jadi, saya tidak perlu lagi merasa terbebani untuk membaca buku-buku tertentu.

Sebagai catatan, akhir-akhir ini saya lebih tertarik pada buku terbitan penerbit indie. Alasannya sih karena tulisannya segar. Tidak monoton dan entahlah. Mungkin karena saya suka sesuatu yang beda saja.

Okay. Jadi, bulan Juni lalu, ini buku-buku yang sudah saya baca hingga habis.

Kumpulan Kalimat Demotivasi oleh Syarif Maulana (Penerbit Buruan.co)

Buku ini sudah saya ulas pada artikel saya sebelumnya. Meski artikel saya itu cenderung seperti rangkuman yang ditulis orang bingung. Buku Kumpulan Kalimat Demotivasi ini seperti menyahuti kemuakan saya akan delusi optimisme. Ada berbagai esei yang mengkritik para motivator yang berjualan mimpi kosong.

buku demotivasi

Ada juga kalimat-kalimat (aforisme) yang bernada pesimis. Kalimat-kalimat demotivasi yang berkesan pesimis ini adalah sisi pahit dan gelap hidup. Ia juga perlu ditanam dalam-dalam dalam ingatan, agar kita bisa memaknai kehidupan dengan utuh. Supaya kita bisa mempertimbangkan banyak sisi kehidupan mana yang harus kita kutuk atau kita syukuri.

Bagaimana Saya Menulis oleh Bertrand Russell (IRCiSoD)

Ini adalah satu-satunya buku di artikel Buku Bacaan Bulan Juni yang saya baca hingga habis. Bukan, buku ini bukan catatan proses kreatif penulisan seperti buku Tentang Menulis Bernard Batubara. Buku ini adalah kumpulan esei karya sang ilmuwan logika matematika.

buku rekomendasi

Pada esei-esei dalam buku ini, Russell menceritakan bagaimana ia mengembangkan gaya penulisan, topik apa saja yang menarik baginya, dan beberapa fenomena masyarakat yang ia kritisi. Jadi, banyak hal yang membentuk pemikiran sang ilmuwan polimatik hingga ia tak hanya unggul dalam bidang matematika. Tapi juga sastra dan filsafat.

Dari Dee ke Leo Kristi oleh Kris Budiman (Penerbit JBS)

Pembaca yang baik, selayaknya penulis yang baik, juga butuh teknik-teknik yang khusus. Fakta ini baru saya sadari saat membaca esei-esei pendek dalam buku karya Kris Budiman ini.

Saya biasanya membaca karena ingin mencari hiburan. Namun, sejak saya jualan buku bersama si YSF di MarkasBuku, saya mulai belajar membaca buku untuk belajar dan mengasah pikiran. Perubahan tujuan ini tentu saja merepotkan. Karena saya selalu memposisikan diri sebagai penilai atau pengulas buku.

Nah, dari buku sederhana ini, saya bisa belajar bahwa membaca dan mengulas buku bisa menyenangkan. Asal dilakukan dengan teknik yang tepat. Pada esei berjudul Oleh-oleh Istimewa untuk Kris misalnya. Saya bisa tahu bahwa mengidentifikasi mengelompokkan bacaan berdasarkan karakter tertentu dapat memudahkan analisis selanjutnya.

Menemukan keunikan, pesan, dan keindahan sebuah karya sastra juga harus fokus. Fokus yang saya maksud ini adalah: Saya harus menentukan dari sudut pandang dan dari apa yang harus saya perhatikan saat membaca dan menganalisis buku?

Nah. Buku ini cocok untuk saya sandingkan dengan buku Inilah Resensi. Jadi, saya bisa belajar jadi pembaca yang baik dari Pak Kris Budiman. Sedangkan dari Mas Muhidin M. Dahlan, saya bisa belajar jadi pengulas.

Iya, pengulas saja dulu. Jadi baiknya belakangan~

Leave a Comment

%d bloggers like this: