Tentang Seorang Pengemis

Syahdan, ada seorang tunawisma di masa lalu. Ia berjuang sendiri di sebuah kota megapolitan. Bermodal tas butut, tiga pasang setelan baju, dan sebuah kaleng kosong, ia mencari pencaharian. Tiap hari di luar sebuah ruangan.

Setelah puas dengan nasi busuk yang ia makan tiap harinya, pada suatu hari, sesuatu yang sering dituduh sebagai keajaiban datang. Dibawa oleh sekelompok pemuda dengan wajah ceria. Mereka melihat wajah terlipat sang pengemis dengan iba.

Keputusan yang mereka ambil setelah berembuk adalah mengumpulkan sedikit uang saku mereka. Hasilnya akan diam-diam diberikan pada sang pengemis dan sebagian akan digunakan untuk menyewa tempat tinggal untuk berteduh.

image credit: DynamicWang – unsplash.com

Ternyata, dugaan para pemuda tersebut salah. Bukannya bersyukur dan berterimakasih. sang pengemis malah mengumpat kasar. Menolak pemberian mereka sambil menghina mereka, menuduh, bahwa para pemuda tadi tidak mengerti perjuangan melawan kehidupan yang ia hadapi.

Kumpulan pemuda tadi masih sesekali mampir ke tempat sang pengemis biasa menggelar kaleng. Berusaha memberikan bantuan. Namun, sang pengemis pergi dari tempat itu, meninggalkan para pemuda pemurah itu dengan tanda tanya dan tanda seru:

“Mengapa kebaikan bisa-bisanya ia tolak? Bukankah ia membutuhkan bantuan? Hei! Sombong dan naif sekali dia! Bukankah niat kami baik dan mulia?! Manusia macam apa yang menolak dan menistakan keluhuran yang kami tunjukkan?!” Begitu, riuh mereka berbicara.

Akhirnya, di akhir percakapan panjang dan jengah yang berlebihan. Kumpulan pemuda tadi memutuskan untuk meninggalkan sang pengemis sendiri. Membiarkannya begitu saja, sebagaimana pejalan kaki lain tidak memperdulikannya.

Sadar bahwa ia tidak lagi mendapat perhatian, sang pengemis mulai merasa, bahwa kosong meruap dalam hatinya. Ia mulai merindukan para pemuda tadi. Sesekali, ia mengintip para pemuda tadi dari kejauhan. Bersyukur atas perhatian mereka sambil sesekali mengumpat, mengutuk diri. Mengapa ia sebinatang itu menolak kebaikan?

Pada akhir hari yang panjang, sang pengemis menghentikan pengintaiannya. Membiarkan niat baik para pemuda tadi ada dalam dirinya. Menjadikannya pelajaran, untuk tidak menyia-nyiakan kebajikan orang lain, apalagi dengan penolakan yang berlebihan.

Ia berjalan menjauh, menelusuri pojok lain kota megapolitan itu. Membawa penyesalan bersamanya, memeluk kenangan yang ditinggalkan para pemuda tadi sebagai harta baru baginya, selain tas, pasangan baju, dan kaleng tua yang ia bawa.

Ini apa, sih?

Lai Karomah
What am I really? Dunno~