2Polar

Saat masih Sekolah Dasar dulu, sok-sokan menghajar anak cowok bandel itu mudah. Ambil saja batu atau rantai sepeda. Ajak ke lapangan, lalu bergumul sekenanya. Setelah itu masalah selesai. Keesokan hari, kami sudah main kelereng lagi. Atau rebutan menjawab pertanyaan sebelum pulang sekolah. Bipolar

Saat sekolah menengah pertama dulu, melawan kakak OSIS saat MOS itu gampang. Cukup mengiyakan sambil sesekali membalikkan kalimat. Membuat mereka gemas. Lalu kembali duduk tenang setelah disuruh nyanyi ‘Balonku ada lima’ versi qasidahan.

Melawan orang lain itu gampang. Tapi bagaimana jika sosok bully pengganggu itu dirimu sendiri?

Phase One : The Down Low

Ada suatu saat, dimana isi kepala ini ramai seperti KRL Wanita. Penuh dengan serapah dan desisan emak-emak egois yang berebut tempat. Bayangkan, scene tersebut diputar dalam tempo yang cepat. Membuat panik, marah dan sering hilang kontrol atas diri sendiri.

Mereka yang ada di luar tempurung kepala ini mungkin melihat saya seperti sosok monyet uring-uringan yang lapar. Loncat kesana kemari tanpa tujuan dengan muka galak. Seringkali saya membuat orang lain kesal atau malah menangis.

Menghindari lebih banyak yang terluka, biasanya saya memilih untuk menyendiri~

Saat saya menyendiri, sosok itu muncul. (Bukan, bukan semacam sosok mistis atau ilusi. Saya sebut ‘sosok’ untuk mempermudah alur cerita.)

Sosok itu sering mengungkit-ungkit kesalahan saya. Kegagalan saya dan bertanya kenapa dalam usia saya yang sudah 26 ini, saya belum bisa jadi manusia berguna?

Sosok ini membisikkan kejelekan orang lain. Membuat saya membenci orang tanpa alasan. Bahkan saat hanya langkah kakinya yang terdengar.

Sosok ini membisikkan bagaimana saya memiskinkan orang tua saya dan mengancam kelangsungan masa depan adik saya.

Sosok ini membisikkan bagaimana keluarga saya terkucilkan dari keluarga besar. Bagaimana para tetangga membicarakan saya yang belum menghasilkan revenue yang pantas. Setidaknya sesuai pengorbanan orang tua saya.

Sosok ini yang terus berbisik, luluspun, nilai yang nanti terpampang dalam transkrip ijasah hanya 3.20. Pintu lapangan kerja tertutup, tidak ada penyedia beasiswa yang akan melirik saya, uang puluhan juta itu melayang.

Rese banget kan?

Jika sosok ini nyata, memiliki badan wadag, bisa saja saya menyerangnya. Mungkin saya pukuli dengan keras. Atau saya lepar dengan batu seperti saya melempar teman cowok bandel saya dulu. Saya mungkin juga bisa mengacuhkan sosok ini, membiarkan dia mati ditelan busa liurnya sendiri.

Sayangnya, sosok sialan ini ada dalam tempurung otak saya. Sekali lagi, melawan diri sendiri itu sulit.

That S Word

Jika kamu mulai bosan dengan acara televisi, atau muak dengan cerita murahan sinetron. Langkah yang pasti kamu ambil pasti ambil remote, menekan Power Off.

Blip~ Televisi sialan tersebut mati. Sayangnya, tempurung kepala ini tidak memiliki Power Button. Akibatnya, sosok sialan diatas terus saja menghantui. Memenuhi langit-langit bagian dalam kepala saya dengan kutukan.

Lebay?

Mungkin, but hey.. The pain is real, you see.

That urge to put a big bloody hole in my head is real!

Well…

Seringkali saya menghabiskan waktu hanya terlentang di lantai. Sambil membayangkan seperti apa tenangnya, jika sosok itu berhenti memutar scene KRL gerbong wanita yang penuh sumpah serapah yang mengutuk saya.

Menghentikan dia yang tidak pernah menghargai diri ini.

Saat terbangun, ada rasa muak luar biasa, saat saya mendengar detakan nadi dari telinga saya. Saat melihat cermin, saya melihat sosok itu disana.

Mukanya tanpa ekspresi, tatapan matanya merah: entah marah atau dia berusaha sok kuat dengan kenyataan itu.

I want it to stop.

Ya, saya selalu INGIN MELAKUKAN APA YANG CHESTER BE LAKUKAN. I’ll always hate myself.

Saya sudah menginginkan hal ini sejak jaman SMA dulu. Mungkin saja dulu karena gejolak hormonal yang belum stabil. Tapi kini, saya sudah menjadi kerak bubur yang gosong. I hav’ to get rid of myself.

Sungguh sayang, apa yang saya inginkan selalu jadi wacana. Termasuk hal ini (:

Manic Depression

Temporary Shut the Demon Down

Masalah emosi dan tempramen saya sudah berlangsung lama. Sejak SMA, sayangnya, saya tidak mendapat perhatian dari guru BP. Dia lebih sibuk dengan orang lain.

Akhirnya saya menemukan buku karya Bev Cobain. Judulnya “when nothing matters anymore: a survival guide for depressed teens”. Dari situ saya belajar, dan menyimpulkan saya depresi. Well, dari buku ini saya mulai belajar bagaimana meringankan tekanan dalam tempurung kepala.

Tapi tetap saja, banyak konflik yang tidak bisa saya selesaikan dengan kepala dingin. Seringkali ada konflik fisik dengan Umi. Pertengkaran dengan teman. Hingga kebiasaan pasang muka datar yang sering disalah artikan sebagai kesombongan.

Bagaimana Saya ‘Dealing wit’ People’?

Meski kadang saya berusaha untuk ramah, seringkali malah menjebak saya pada situasi kaku yang aneh sekali. Rupanya, mereka masih merasa kesal karena sikap saya yang tiba-tiba marah. Sering tidak tahu diri, saat yang lain serius, saya malah bergurau. Saat yang lain happy-happy, saya malah pasang muka masam.

Seringkali saya menulis ‘I hate people‘ tapi sebenarnya yang ingin saya katakan adalah ‘hei, let’s be a friend. But I don’t know how‘.

Saya gak tau pasti, syaraf bagian mana diotak saya yang putus (lupakan fakta bahwa konsep ini tidak saintifik :v). Yang jelas, kebiasaan itu serta ketidakmampuan saya berkomunikasi sudah membuat saya terlempar dari pergaulan.

Track Record Akademik

Silahkan baca : My Journey Part I dan My Boggart Is, Me Being Kicked Out From Here

FYI, saya belum lulus hingga saat ini. Awalnya saya mengira ini hanya masalah saya yang malas. Tapi akhirnya saya sadar. Ada yang salah dalam diri saya. Suara-suara itu, keinginan untuk S word itu, beberapa konflik fisik dan tempramen saya yang ga karuan.

Bipolar Disorder

Dari buku Bev Cobain, saya sekilas mempelajari istilah ini. Beberapa gejala yang tertulis disitu saya rasakan. Tapi saya abai, karena gejala tersebut tidak selalu muncul (ada detail yang terlewat dari buku tersebut : Gejala bipolar itu periodik I knew it, but I didn’t realise~).

Dan pada akhir 2016 lalu, saya iseng mencoba tes screening psikologis dari Psychcentral.com. Hasilnya cukup mengagetkan. Skor depresi dan Bipolar saya moderat. Dalam hasil screening tersebut, ada anjuran untuk memeriksakan diri pada psikolog atau psikiater.

Tapi saya acuh~

Saya punya banyak teman yang bisa membuat saya melupakan pikiran negatif dalam tempurung kepala saya. Belum lagi percobaan-percobaan di lab yang mengalihkan piliran. Benar-benar tidak ada ruang untuk berpikiran negatif.

Hidup adalah siklus yang rapi. Saat benderangnya siang meraja, kemudian gelap akan mulai mengkudeta.

Dua tahun berlalu. Penelitian saja tidak kelar, kesulitan finansial makin mencekik, saya memiliki masalah dengan sosok yang dulu adalah ‘pahlawan’ dan idola saya, tekanan untuk segera lulus makin kuat.

Keadaan tersebut membuat saya sampai pada titik, dimana tiap pagi ada percakapan dengan sosok pikiran negatif dalam tempurung kepala ini.

‘Hei, looser, what do you want?’

Me: ‘I want to blow up my head. Now, go away’.

I can’t take it anymore~

Singkat cerita, akhirnya saya memberanikan diri periksa ke psikiater salah satu rumah sakit di Bogor. Setelah menjalani voluntary counselling test oleh perawat, akhirnya dokter ahli kejiwaan memvonis saya terkena gangguan afektif bipolar.

Wew. Aneh. Saya malah tersenyum tipis. Ada kelegaan disana. I’m not a fraud, not a bum. It was my brain chemistry. They screwing with me!

Dokter akhirnya memberi Depakote, asam valproat yang fungsinya meredam korslet neurotransmiter di otak.

The Meds

Salah satu efek samping semvrul asam valproat itu adalah rasa kantuk. Meski saya lebih merasa relax dan riak dalam tempurung lebih tenang, saya rasa efek sampingnya lebih membuat saya bego.

Kemampuan saya bersosialiasi lebih baik. Beberapa pekerjaan yang biasanya terbengkalai dapat dikerjakan. Draft manuskrip publikasi ilmiah rampung. Kelihatannya semua baik-baik saja, bukan?

Ya, semua baik-baik saja. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti meminum obat ini. Alasan lain tentu saja masalah finansial. Alasan ketiga, saya rasa diagnosis dokter tersebut tidak sepenuhnya benar. Bisa saja karena saya tersugesti saja.

Pikiran negatif, sosok sialan itu, malah berkata, ‘ini supaya orang pada maklum akan kegagalanmu, kan?’

Dan, ya. Fase down low saya kembali. Belum lagi masalah keluarga, waktu yang makin sempit. Saya mulai marah-marah. Mulai acuh, kembali melempar barang, kembali abai akan tanggung jawab.

Dan ya. Ini saatnya saya menerima, bahwa saya memiliki otak yang sedikit berbeda. Agar saya bisa menjadi manusia, obat itu harus terus saya minum.

Okay, the med is suck. But if it could make me a better person and it is definitely make me a better person. I’m taking it. I’ll take the odds.

Ini Realita Saya

Beberapa dari Anda pasti nyeletuk : ‘kamu gak apa-apa kok’, ‘lebay deh’, ‘masak sih? kayaknya gak pernah kelihatan sedih’, dll.

Okay. Itu normal.

Ya, normal. Karena manusia melihat manusia lain sebagai objek. Pemahaman kita terhadap seseorang terbatas pada apa yang bisa kita lihat.

Tapi, sekali lagi. Apa yang saya rasakan itu nyata. Ini realita yang harus saya hadapi tiap hari. Lebay? Ya. Memang, tapi kita tidak hidup dalam tempurung yang sama. So, just go away~

Saya tahu, beberapa diantara kalian berusaha membantu saya keluar dari semua ini.

Well, thank you for that.

Tapi, kadang menyerah lebih indah~

Bersambung~ (: