Belajar Hidup Dari Ampas Kopi

Advertisements

Tulisan tentang Belajar Hidup Dari Ampas kopi ini pernah saya posting sekitar tahun 2011 lalu, dalam kondisi yang sama,

Mungkin saya harus sedikit menoleh kebelakang. Belajar dari beberapa fragmen hidup saya yang seperti fase pertumbuhan bakteri saja, ada fase Lag-nya :v

Waktu itu saya menulis seperti ini,

Aroma kopi membuatku enggan terlelap. Lagi pula, malam ini belum larut. Akupun belum menepati janji pada bintang-bintang untuk ‘ku pandang.

Haha…

Intinya, masih terlalu dini untuk bermain dengan mimpi-mimpi buruk yang belum tentu bisa aku nyatakan.

Malam ini tak beda dengan malam sebelumnya. Masih setia dengan kelam, atau gerlap purba para bintang. Masih lesu, masih beku dengan sepinya.

Dan selama lelah ini masih bisa ‘ku abaikan. Selama itulah nada-nada brutal hasil kondensasi sebalku siang tadi kutulis. Kuatur sebaik mungkin. Hanya untuk membuat orang lain mengerti. Hidup ini apa?

Well…

Aku juga kadang masih susah menyadari “apa ini?” ketika suatu fragmen yang membuatku senang kemarin, tiba-tiba tadi menebas aku dengan ganas. Meninggalkan bisul. Dan akhirnya aku asal-asalan mengartikan hidup: “HIDUP ADALAH UNTUK BERMAIN DENGAN LUKA”.

Pun begitu, ketika aku menemukan puing kegilaan menyuruhku terbahak anarkis, seakan tak ada bisul yang harus aku obati, lalu dengan serampangan aku menyimpulkan:

“JANGAN SIAKAN HIDUP DENGAN AIRMATA, SELAGI ADA TAWA, GILA-LAH!!!”

HAHAHA…

Hmmmmh….

Absurd…

Hahaha…

Artian hidup tak perlu dipikir untuk menemukan kesimpulan yang nyempil diantara luka.

Hidup tak perlu dikatakan untuk suaranya, dan tak perlu dipikir untuk merasakan luka-tawanya…

Seperti kopi ini. Ia tetap nikmat diteguk, meski hitam, pahit dan kadang membuat kepala pening. Hidup tetap bisa dinikmati, meski perih, meski perih…

Mari bersulang…

Bahhh!!! setengah gelas kopi hitam ini, ternyata ampas. Hahaha

 

Kota Mati, 23 April 2011

 

Kecoak Hidup*

Saya lupa, kenapa ada kalimat kesimpulan seperti itu, yang jelas, sama dengan apa yang saya lakukan malam ini, begadang ga jelas.

Ampas kopi itu hanya ada pada kopi hitam, lebih spesifiknya kopi hitam pasaran yang bisa dibeli dengan harga Rp.1000. Bungkusan plastik seperempat kilo, karena proses grinding biji kopinya manual menggunakan lumpang dan alu, bubuk kopinya cenderung kasar.

Ada kecenderungan dari arang (kopi itu, arang juga kan? :v), yaitu kemampuannya untuk menyerap sesuasyu, dalam konteks ini, gula yang terlarut saat Anda membuat kopi.

Nah,Saat seseorang meminum kopi, mereka cenderung menghindari ampas di dasar gelas. Membuangnya begitu saja.

Dan saya biasanya ambil sendok, nyendoki ampas dan mengisapnya. Sedikit mengganggu karena kadang butiran kasar ampas kopi tadi sering nyempil di mulut.

bodo amat.

Jadi sebenarnya apa yang saya ceritakan dalam posting blog ini?

ga ada.

Saya cuma mau curhat isedikit. Saya kehabisan kopi.

Incoming search terms:

(Visited 7 times, 1 visits today)

Silahkan diskusikan topik diatas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.